Kamis, 13 Juli 2017

Iya, sekali lagi aku hanya berani menatapmu dari balik meja. Dari sudut yang tak akan pernah bisa kau lihat, namun aku memandangmu dengan jelas. Saat kau memesan minumanmu, atau saat kau mencium rambut wanita di sebelahmu. Aku tak bicara, hanya dengan mata berkaca memandangi mu dari balik sudut gelap ini. Aku tak pernah berharap untuk menggantikan posisi  kekasihmu. Karna mengharap kau menyadari keberadaanku saja sudah mustahil.

                Hari ini hujan, aku tak yakin kau kesini. Tapi cafe ini cukup ramai, orang – orang mungkin berteduh sekalian ngobrol ngalur ngidul dengan memesan minuman ala kadarnya agar tidak diusir. Aku masih memandangi meja yang biasa kau tempati, masih kosong. Berbeda seperti hatiku yang penuh sesak karna selalu ada kamu.

                Di siang yang hujan ini lagu endah and resha mengalun lembut. Alunan melody “Waiting” membuat suasana bertambah sendu. Setidaknya menurutku. Karna syair yang dilantunkan sangat mengingatkanku padamu..

                Yaa, aku memang suka menulis. Terutama menulis surat cinta untukmu. Tapi aku tak tahu harus mengirimkannya kemana. Aku tak yakin apakah harus dikirim. Bahkan aku pikir kau takan mau membacanya. Kau bilang aku pesimis? Memang. Aku tak yakin untuk ini.

Semarang , 8 februari 2012

            Untuk mu yang baru aku lihat di sudut itu siang tadi.

            Hey , haloo. Siapa kamu? Kamu lucu sekali. Senyumu membuat aku menahan nafasku saat tak sengaja aku melihatmu siang tadi di cafe. Kamu lucu sekali, meski samar suara serakmu meneduhkan hatiku. Kamu lucu sekali, aku ingin bertemu lagi.. :’)

Tertanda

Penggemar (rahasia) baru mu


                Itu surat pertama dimalam pertama kau mulai menyusupi tiap jengkal hatiku. Seperti air yang mengisi setiap sudut rumah saat banjir bandang melanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar